|
|
|
|
SULAWESI-MAKASSAR, ANGKA 7 & HURUF KOleh : Husaen Manggabarani “Maka kemana pun kamu menghadap di situlah wajah “Sesungguhnya pada langit dan bumibenar-benar terdapat Asy-Syaikh Al-Imamul-ajallu Abu Nashr Muhammad bin Abdurrahman Alhamdani pernah mengatakan dalam bukunya yang berjudul As Sab’iyyaatu fil Mawaa’idhil Barriyyaat bahwa Zat Pencipta - Yang sangat besar kekuasaanNya dan sangat tinggi kalimatNya serta berkesinambungan nikmat-nikmatNya, telah menghiasi 7 perkara dengan 7 perkara dan menghiasi pula bagi tiap-tiap perkara itu dengan 7 perkara lainnya, untuk memberikan kepada orang-orang berilmu bahwasanya angka 7 itu mempunyai rahasia yang sangat besar dan kedudukan yang agung di sisi Allah SWT. Baik dalam tulisan Arab maupun dalam tulisan Arab Indonesia, Kalimat Tauhid ini tetap saja berjumlah 7 kata.
Laa Ilaaha Illa Allah Muhammad Rasul Allah. Jumlah kata yang terdiri dari 7 kata tersebut sebenarnya bukan hal yang kebetulan saja, tetapi merupakan rahasia Allah SWT yang mengandung beberapa petunjuk bagi manusia. Penulisan ini hanya memaparkan tentang hal-hal yang berkenaan dengan angka 7, dan tidak memaparkan hal-hal tersebut dengan 7 perkara lainnya. “Sesungguhnya perintah-Nya apabila Dia menghendaki sesuatu hanyalah berkata kepadanya: “Jadilah!” maka terjadilah ia.” (QS. Yaasiin: 82) Kalimat “Kun Fayakun” (
5 Huruf 2 Huruf = 7 Huruf 5 Melambangkan Rukun Islam Artinya bahwa dari Kelima Rukun yang terdapat dalam Rukun Islam tersebut, maka rukun yang pertama: “Mengucapkan Dua Kalimat Syahadat” adalah yang merupakan “intisari” dari kelima rukun tersebut. Sebab pengucapan Dua Kalimat Syahadat merupakan dasar atau langkah awal dalam menjalankan ibadah menurut aturan Syariat Islam dan apabila hidup ini diakhiri dengan kalimat tersebut yang tentunya juga menjalankan makna dan tujuan kalimat tersebut, maka Surga tempatnya. Penjabaran dari makna dan tujuan Dua Kalimat Syahadat, semuanya terdapat dalam Al Qur’an dan Al Hadits yang pada dasarnya menjabarkan keempat rukun lainnya dari Rukun Islam tadi. Makna 7 kata pada Dua Kalimat Syahadat tersebut adalah:
Dalam Al Qur’an Allah SWT telah berfirman: “Dan sesungguhnya Kami telah menciptakan di atas kamu Tujuh Buah Jalan dan Kami tidaklah lengah terhadap ciptaan (Kami)”. (QS. Al Mu’minuun: 17)
Dalam Al Qur’an Allah SWT telah berfirman: “Sesungguhnya Kami telah menciptakan manusia dalam bentuk yang sebaik-baiknya.” (QS. At Tiin: 4)
Hubungan ayat di atas dengan kaitannya angka 7 pada diri manusia adalah sebagai berikut:
Dalam Al Qur’an Allah SWT telah berfirman: “Dan Kami lebih dekat kepadanya (manusia) dari pada urat lehernya”. (QS. Qaaf: 16 Kalaulah kita bisa menafsirkan dengan kalimat bebas untuk memahami bahwa Allah SWT lebih dekat dari urat leher, maka : “Kami lebih dekat (carilah Kami) pada tempat yang Dari beberapa contoh di atas dapat disimpulkan bahwa angka 7 adalah “Angka Yang Agung”. Agung berarti “Yang Diutamakan” atau bisa juga dikatakan sebagai “Yang Dilebihkan”. Artinya daerah yang berhubungan dengan angka 7 adalah merupakan “Tempat Yang Agung” atau “Yang Diutamakan” atau “Yang Dilebihkan”. Wallahu a’lam. Rasulullah saw. bersabda yang diriwayatkan oleh Turmudzy ra. yang artinya bahwa di dalam Al Qur’an ada sebuah surah yang kedudukannya paling mulia dari surah-surah yang lain, yaitu Surah Al Baqarah. Di dalamnya terdapat satu ayat yang merupakan penghulu dari segala ayat, sebuah ayat yang agung, yaitu Ayat Kursy. Ada beberapa kitab yang menerangkan keistimewaan Ayat Kursy. Ayat Kursy membicarakan mengenai Zat Allah, Sifat-SifatNya dan Fi’il-Fi’ilNya. Di dalam Ayat Kursy terdapat 17 Sifat-Sifat Allah yang diterangkan baik secara terang maupun secara tersembunyi. Ayat Kursy tersusun dalam 50 kata, 170 huruf, dan terdapat 17 huruf Mim dan 17 huruf Waw. Kesemua angka tersebut di atas pada dasarnya merujuk ke angka 7. Dikatakan Ayat Kursy karena dalam ayat tersebut terdapat kata Kursiy, yang artinya Singgasana yang megah lagi mempunyai martabat. Namun bukan yang dimaksud sebagai kursiy tempat duduk Tuhan, tetapi adalah Kekuasaan Allah yang meliputi langit dan bumi. Manusia adalah merupakan ciptaan Allah SWT yang paling agung dari semua ciptaan Allah SWT yang ada. Kalau kita mau mengamati walau sejenak saja mengenai angka 7 di sekitar kita, tentu kita dapat merasakan bahwa sebenarnya kita semua telah berada dan telah bergaul dengan kemisteriusan angka 7. Hanya saja kita tidak bisa mengambil suatu pelajaran ada hikmah apa di balik semua ini. Kita bahkan tidak menyangka bahwa dalam kesehari-harian seringkali kita membutuhkan yang namanya musik untuk mengusir kejenuhan dan stress dalam diri. Rangkaian nada yang menghasilkan suatu alunan musik yang sangat merdu tersebut merupakan hasil dari angka 7, yaitu proses solmisasi yang terdiri dari tangga nada yang berbeda tinggi rendahnya; Do Re Mi Fa So La Si. Coba bayangkan betapa banyak sudah lagu yang dihasilkan di seluruh dunia, dari dulu hingga kini, dan yang masih akan dibuat, hanyalah merupakan hasil dari angka 7 tadi. Sering kita mendengar istilah ceramah Kultum yang merupakan kependekan dari Kuliah Tujuh Menit. Bahkan di dunia film pun hingga kini kita kenal sebuah film yang paling terkenal dengan nama 007. Begitu pula dengan nama sebuah minuman segar (soft drink) yang seringkali kita minum yang dibuat oleh orang-orang barat dan sering diplesetkan banyak orang, yaitu 7 UP (7 Ujung Pandang). Apakah kesemua hal tersebut adalah kebetulan belaka? Tidak. Hal itu bukanlah sebuah kebetulan belaka. Setuju atau tidak setuju, hal tersebut adalah semua berasal dari Allah SWT sebagai Sang Pencipta dari semua gerak dan pikir manusia. “Padahal Allah-lah yang menciptakan kamu dan apa yang Berangkat dari ayat di atas, ada hal yang sangat menarik untuk menjadi bahan renungan bagi kita yang menyangkut dengan angka 7. Tanpa disadari ternyata di seluruh Indonesia ini, hanya Sulawesi Selatanlah satu-satunya daerah yang selalu mendapatkan simbol angka 7. Sulawesi Selatan yang beribu kotakan Makassar ini terletak pada Pulau Sulawesi. Sulawesi adalah merupakan salah satu pulau besar dari beberapa pulau besar yang dimiliki oleh bangsa Indonesia. Sulawesi merupakan pulau yang terletak di sebelah Timur wilayah Indonesia. Sulawesi yang nama lainnya adalah Celebes (dibaca Selebes), merupakan kata yang berasal dari bahasa Portugis. Celebes merupakan perpaduan dari dua kata, yaitu Cele artinya Badik/Keris dan Bes dari kata Besi. Jadi kira-kira Celebes artinya Badik Besi. Pun kata Celebes terdiri dari 7 huruf. Sulawesi Selatan terletak pada daerah Indonesia Bagian Timur pada Pembagian Wilayah dan terletak pada daerah Indonesia Bagian Tengah pada Pembagian Waktu. Pulau Sulawesi merupakan Titik Tengah (Sentral) antara Wilayah Indonesia Barat dan Wilayah Indonesia Timur. Kalaulah kita melihat kembali hadits Nabi yang berbunyi: “Sebaik-baik urusan adalah yang di tengah-tengah”, berarti pulau Sulawesi sebagai Titik Tengah (Sentral) tentu mempunyai arti khusus yang tersirat.
![]()
(terdiri dari 11 huruf arab) Jadi seandainya saja kata Indonesia Timur dan kata Indonesia Tengah disatukan atau digabungkan akan menjadi sebuah kalimat sederhana, tetapi mengandung makna yang tersirat, yaitu Indonesia Timur Tengah. Ada apa dengan Sulawesi khususnya bagian Selatan yang beribu kotakan Makassar ini? Sengaja atau tidak sengaja mengapa harus Makassar yang harus menjadi tempat bersatunya hal-hal yang berbau angka 7 ?
Beberapa hal menyangkut angka 7. 1. Dengan menghitung huruf sesuai jumlah huruf yang tertulis. 2. Huruf yang sama dihitung sebagai satu huruf. Peristiwa jatuhnya pesawat Adam Air dengan nomor penerbangan 574. “Adam Air” sendiri terdiri dari 7 huruf. Kalau kita berlandaskan hadits Nabi yang berbunyi: “Sebaik-baik urusan adalah yang di tengah-tengah”, maka nomor penerbangan Adam Air tersebut merujuk ke angka 7. Dan kalaulah kita membuka Al Qur’an sebagai “Petunjuk bagi orang yang bertakwa”, maka surah ke 7 jatuh pada Surah Al A’raaf. Al A’raaf artinya adalah “Tempat Yang Tinggi”. Nah bukankah pesawat Adam Air jatuh dari tempat yang tinggi ? Kejadiannya di bulan Januari yang juga terdiri dari 7 huruf dan pada tahun yang juga merujuk ke angka 7, yaitu 2007. Demikian juga dengan jatuhnya pesawat Garuda pada tanggal 7 Maret 2007 di Jogjakarta. Tanggal dan tahunnya merujuk ke angka 7. Bahkan kata “Garuda” sendiri yang dimulai dari huruf G dimana huruf G bila dihitung berdasar deret hitung, maka huruf G jatuh pada hitungan ke 7. Pada kecelakaan tersebut stasiun TV yang pertama meliput adalah Courtesy Channel 7 Australia. Tentang huruf G, bukankah lambang negara Indonesia adalah Burung Garuda. Bangsa Indonesia lama dipimpin oleh Orde Baru di bawah tangan Golongan Karya (Golkar). Banyaknya terjadi bencana alam di Indonesia adalah bencana Gempa Bumi. Berbentuk Huruf K Pulau Sulawesi merupakan salah satu dari sekian ribu pulau yang ada di seluruh dunia, yang jika dilihat dari bentuk fisiknya menyerupai huruf “K” ini, tentunya tidak begitu saja terbentuk. Pembentukan pulau Sulawesi atau pulau-pulau yang lain, bukan merupakan hal yang kebetulan terjadi, tetapi semua hal tersebut merupakan rancangan ilahi yang pasti mempunyai maksud dan tujuan bagi manusia. “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada antara keduanya dengan bermain-main, Kami tidak menciptakan keduanya melainkan dengan haq, tetapi kebanyakan mereka tidak mengetahui”.(Ad Dukhaan: 38-39) “Allah memberikan hikmah kepada siapa yang dikehendaki-Nya. Dan barangsiapa yang diberi hikmah, sungguh telah diberi kebajikan yang banyak. Dan tak ada yang dapat mengambil pelajaran kecuali orang-orang yang berakal”.(Al Baqarah: 269) “Dan bumi serta penghamparannya” (Asy-Syams: 6) Mengapa pulau SULAWESI terbentuk mirip dengan huruf K? Adakah hikmah di balik terbentuknya? Menurut para ahli Geologi, bahwa terbentuknya pulau Sulawesi yang terjadi secara alamiah oleh proses alam, memang berbeda dengan proses terbentuknya pulau-pulau yang lain di Negara Kepulauan Nusantara ini, bahkan hanya beberapa pulau di dunia yang mempunyai kesamaan dalam proses terbentuknya. Pulau Sulawesi terbentuk dari proses Endogen, yaitu proses yang terjadi karena adanya Pengangkatan dari dalam perut bumi. Artinya pembentukan pulau Sulawesi terjadi dengan sendirinya, tidak seperti pulau-pulau lain yang proses pembentukannya merupakan hasil Patahan/Pelepasan Daratan dari suatu Daratan Utama/Benua. Seperti pulau Jawa yang dulunya bersatu dengan pulau Sumatra dan bersatu dengan Malaysia terus ke daratan Asia. Pulau Kalimantan dulunya bersatu dengan sebagian daerah Malaysia terus ke Philipina terus ke daratan Asia. Pulau Maluku dulunya bersatu dengan Irian Jaya (kini Papua) bersatu dengan Papua New Guinea terus ke daratan Australia. Hal ini dapat dibuktikan dengan banyaknya persamaan flora (tumbuhan) dan fauna (hewan) di antara masing-masing wilayah tersebut. Berbeda halnya dengan pulau Sulawesi yang memang dulunya terbentuk dengan sendirinya dari proses Endogen. Jadi pulau Sulawesi terbentuk bukan dari proses perpisahan daratan oleh proses alam dari dua benua, yaitu Benua Asia dan Benua Australia apalagi benua-benua lain. Hal ini terbukti dari ada beberapa jenis flora dan fauna yang tidak ada samanya di dunia, sebagai contoh hewan Anoang (sejenis hewan Rusa) dan hewan Kerbau Belang (Tedong Bonga) di Tana Toraja. “Dan Kami tidak menciptakan langit dan bumi dan apa yang ada di antara keduanya tanpa hikmah”. (QS. Shaad: 27) Apakah proses Pengangkatan dari perut bumi itu merupakan Tanda bahwa Orang-orang Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan akan terangkat derajatnya ? Dalam hal apa ? Atau adakah sesuatu kebenaran yang Allah SWT akan mengangkatnya ke permukaan bumi ini? Wallahu a’lam. Bukankah beberapa peristiwa penting seperti pertikaian di Ambon, Palu dan Aceh dengan Gerakan Aceh Merdeka-nya (GAM = merujuk ke huruf G) setidaknya bisa diredam dengan turun tangannya beberapa orang Sulawesi Selatan. Untuk penyelesaian masalah GAM sendiri harus diadakan perjanjian damai di Helsinki (7 jenis huruf). Kalau benar bahwa sesuatu kebenaran akan terangkat atau muncul di atas daratan pulau Sulawesi khususnya pada Sulawesi Selatan yang beribukotakan Makassar ini, maka hal itu sangatlah sesuai dengan arti dan makna dari nama “Makassar” itu sendiri. Nama Makassar berasal dari kata “Mangkasara” yang artinya “Menjelma” atau “Mewujud”. Sebenarnya nama Makassar sendiri banyak versi asal-muasalnya, namun semua versi itu menujukkan satu arti, yaitu “Menjelmanya ajaran Islam” di tanah Sulawesi Selatan, yaitu di Kerajaan Tallo-Gowa. Kota Makassar sendiri dinyatakan lahir pada tahun 1607. Walaupun nama Makassar pernah berubah menjadi Ujung Pandang (7 jenis huruf), namun nama Makassar kembali disahkan oleh Presiden (7 jenis huruf) RI, yaitu Bapak BJ Habibie, yang biasa dipanggil Pak Habibie (7 huruf). Huruf K yang tampak pada bentuk pulau Sulawesi, tentu mempunyai hikmah. Salah satu hikmah yang terkandung mungkin merupakan kependekan dari sebuah kata yang mempunyai arti yang melambangkan sebuah isyarat dari Sang Penguasa Alam Jagat Raya ini. Setiap orang yang diutus oleh Allah untuk membawa dan mengajarkan kebenaran, berarti dia adalah “Utusan” atau “Khalifah” yang artinya “Pengganti”. Siapakah yang digantikannya? Yaitu yang “Mengutusnya”. Kalau yang mengutusnya adalah “Raja”, berarti orang yang diutusnya pun adalah “Raja”, artinya “Khalifah Raja” atau “Pengganti Raja”. Nah sekarang siapakah yang akan menyangka bahwa suatu saat kelak Bahasa Inggris akan menjadi Bahasa Internasional. Berarti huruf “K” adalah “KING” artinya “Raja”. Hampir semua bahasa di muka bumi ini yang kata-katanya dimulai dari huruf K, berarti “Raja” atau “Pemimpin” atau “Pemerintah / Pemberi Perintah”.
KUN adalah Kata Perintah (Fi’il Amr) yang artinya “Jadilah”. Maksudnya bahwa Kata Perintah itu bukan hanya ditujukan pada proses penciptaan sesuatu yang merupakan Hak Mutlak Dia. Tetapi Dia akan mengutus seorang manusia untuk “Pembawa Perintah” untuk mengarahkan atau menjadikan manusia untuk kembali kepada jalur kebenaran sesuai Al Qur’an dan Al Hadits. Jadi orang tersebut akan datang untuk membangun masyarakat yang Karim (Mulia) dan menghancurkan masyarakat yang Kafir (Ingkar). Kata Karim dan Kafir keduanya merujuk ke huruf K. Dalam Al Qur’an sendiri banyak sekali kata-kata yang mempunyai arti yang khusus yang dimulai dengan huruf K, seperti kata “Kursiy” yang artinya “Singgasana” dalam Ayat Kursiy, kata “Kahfi” (Nama Goa tempat dimana 7 orang Pemuda yang ditidurkan oleh Allah SWT selama kurang lebih 309 tahun) dalam Surah Al Kahfi. Bagi seorang dokter K berarti Vitamin K, yaitu vitamin yang berguna dalam pembekuan darah. Bila terjadi luka yang mengakibatkan darah mengalir, maka Vitamin K inilah yang bertugas untuk membekukan darah agar membendung darah yang banyak keluar. Bagi pecandu ikan hias K berarti Koi, yaitu sejenis ikan hias yang bagi orang Jepang melambangkan “Kebangkitan” dan “Cinta Kasih”. Dan masih banyak lagi. Berdasarkan keterangan dari awal sampai akhir, cobalah kita amati gambar Masjidil Haram di Mekkah dan hubungannya dengan gambar/sketsa kepulauan Nusantara (Indonesia).
Indonesia Timur Tengah berdasarkan deret hitung, huruf K jatuh pada deret ke 11 dan huruf Kaf ( 11 x 2 = 22 Dua Kalimat Syahadat terdiri dari 7 kata Suci , jadi bila ditulis secara acak maka akan menjadi :
kenapa sulawesi tidak berbentuk huruf Kaf ( Cobalah kita tengok para pemain Olah Raga sepak bola, rata-rata yang bernomor punggung 7 dan 11 yang sering menjadi momok bagi lawan-lawannya. Pulau Sulawesi mempunyai kemiripan dengan salah satu pulau yang terletak di kepuluaan Maluku. Hanya saja ukurannya yang sangat jauh berbeda. Dari bukti sejarah, dahulu kala di masa-masa berdirinya kerajaan, kerajaan yang ada di Sulawesi khususnya Sulawesi Selatan tidak bisa dipisahkan dengan keberadaan kerajaan di Maluku. Mereka bagaikan dan bahkan memang bersaudara. Kita coba melihat hikmahnya. Kita tentu sudah pasti mengetahui Sabda Rasulullah saw. yang menganjurkan kita untuk Shalat Sunnat Dhuha, yang dimulai dari jam 07.00 – 11.00. Berawal dari angka 7 dan berakhir dengan angka 11. Selisih waktu dari jam 7 ke jam 11 adalah 4 jam. Nah pulau Sulawesi utamanya Sulsel dan pulau Maluku yang bagaikan huruf K ini, sebenarnya asal-muasalnya juga terdiri dari 4 suku atau 4 kerajaan (kebangsawanan). Angka 4 melambangkan 4 unsur: Tanah, Air, Angin, Api, yang membangun tubuh manusia. Juga melambangkan 4 hal: Syariat, Tarekat, Hakikat, Ma’rifat, yang membangun Islam. Kata Allah, Muhammad, Ahmad dan Islam dalam bahasa Arab pun terdiri dari 4 huruf Hujaiyyah. Bahkan nomor kode untuk telpon interlokal daerah Makassar adalah 0411 ( 0 + 4 = 11). Angka 4 melambangkan 4 suku awal di Sulsel dan angka 11 melambangkan huruf K bentuk pulau Sulawesi itu sendiri. Angka 0 mungkin melambangkan suatu angka yang masih belum jelas keadaan dan keberadaannya. Artinya bahwa angka 7 yang dilambangkan dengan angka 0 adalah merupakan angka yang masih misteri. Dan masih banyak lagi. Sulawesi ( bagaian Selatan) terdiri dari : Suku Tana Toraja (Tator), Suku Makassar, Suku Bugis dan Suku Mandar. Dari keempat suku tersebut, Suku Tana Torajalah yang sangat tertua yang dalam sejarah dikatakan sebagai penduduk asli pulau Sulawesi. Hingga kini para ahli sejarah tidak ada yang mengetahui dari mana sebenarnya datangnya orang-orang Tana Toraja ini yang sudah lama mendiami daratan Sulawesi khususnya bagian selatan. Sebab sangatlah aneh jika hanya orang-orang Tana Toraja saja di Nusantara bahkan Asia Tenggara dan sekitar Asia lainnya yang bisa mengawetkan mayat seperti di Mesir. Bahkan bisa menjalankan mayat seperti di negeri China. Ukiran dan manik-manik perhiasannya pun sama tuanya dengan manik-manik yang ditemukan di Pegunungan Himalaya. Begitu pula dengan Maluku terdiri dari 4 suku atau 4 kerajaan, yang dikenal dengan sebutan “Maluku Kie Raha”. Artinya “Maluku 4 Kerajaan (Gunung)”. Kata “Kie” sendiri yang artinya “Empat” merujuk ke huruf K. Empat kerajaan itu adalah: Jailolo, Bacan, Tidore dan Ternate. Untuk lebih jelasnya silahkan mempelajari sejarah Maluku Kie Raha.
Bila dihitung berdasarkan deret hitung, maka huruf K akan jatuh pada deret hitungan ke 11. Kalau berbicara mengenai angka 11, kita tentu teringat dengan 12 orang murid Nabi Isa as. yang berkhianat salah satunya yang bernama Yudas Escariot, sehingga tinggal 11 orang. Begitu pula dengan 11 orang saudara Nabi Yusuf as. yang membuang dan meninggalkannya di dalam sumur tua. Begitu pula dalam hadits Rasulullah saw. pernah berpesan bahwa barangsiapa yang membaca Al Ikhlas sebanyak 11 kali setelah Shalat Subuh, maka syaitan tidak akan dapat menggodanya, walaupun syaitan bersungguh-sungguh merayunya. Di lain Hadits pun Beliau berpesan bahwa untuk mengobati orang yang sakit gila, maka bacakanlah 11 kali Ayat Kusiy ke dalam bejana lalu memandikannya, insya Allah akan pulih. Masih banyak seputar kemuliaan angka 11. Kita tentu masih mengingat peristiwa hancurnya gedung menara kembar World Trade Centre di New York, Amerika pada tanggal 11 September 2001. September sendiri terdiri dari 7 jenis huruf, dimana tiga huruf “e” dihitung satu huruf. Menara kembar tersebut berdiri bagaikan angka 11.
Menurut Primbon Kejawen orang-orang Jawa, ada dikatakan bahwa: Kalimat bahwa Kiyai Ketibal (merujuk ke huruf K) akan muncul dari Pertengahan Wilayah Indonesia, kami melihatnya sebagai yang dimaksudkan adalah Sulawesi. Dan akan keluar pertama kalinya dari Sulawesi menuju ke arah Semar, dan memasuki Pusar Semar, berarti yang dimaksudkan adalah daerah Kalimantan. Adapun daerah yang disebut sebagai daerah Pusar Semar, masih belum jelas bagi kami, sebab ada empat daerah yang masuk dalam kategori sebagai daerah Pusar Semar, yaitu Bontang, Tenggarong, Samarinda dan Balikpapan. Tetapi kami lebih cenderung untuk mengatakan bahwa daerah Pusar Semar adalah “Bontang”, sebab kata “Bontang” terdiri dari 7 huruf. Jadi akan keluar pertama kalinya ke arah pulau Kalimantan (berhuruf awal K) dengan memasuki gerbang 7 (Bontang). Seandainya pulau Kalimantan diganti dengan gambar Semar, maka nampaklah Tangan Semar seolah-olah menunjuk ke arah pulau Sulawesi. Jadi kalau digambarkan akan nampak seperti gambar di bawah ini:
Berdasarkan ramalan Primbon Kejawen di atas, muncullah pertanyaan bahwa siapakah pemuda yang dimaksudkan tersebut dan dalam hal apa serta apa yang sebenarnya dibawa oleh dia sehingga dia dipilih oleh rakyat ? Dipilih jadi apa ? Mengapa harus keluar Sulawesi dan masuk ke daerah Pusar Semar (Kalimantan)? Kenapa tidak ke Jakarta sebagai Ibukota negara? Jawabnya kita tunggu saja saatnya. Wallahu A’lam.
“Maha suci Allah yang telah menjadikan khazanah- khazanahNya antara Kaf dan Nun.” (Hadits)
|
bravenet.com